1 Comment

Pada Sebuah Kata

Pada Sebuah Kata
(untuk elMisky)
Mewakilkan kata pada rangkaian huruf tertata
menggantikan lisan pada sebuah tulisan
mengukur rasa dari rangkaian kata-kata
menata kata pada sebuah kotak kecil
sekedar ratusan huruf dan karakter
dijual pada modal dan mode gengsi

dan kata-kata itu tak berasa
tetap seperti barisan huruf
tanpa makna
barisan huruf dengan beberapa rupiah
kuasa modal atas kata-kata

huruf-huruf yang telah kehilangan makna
sekedar menghiasi kotak-kotak
dihubung dunia maya
dijaring dalam ruang yang dikata internet
dibungkus dalam vendor dalam berbagai nama
pesan singkat

maaf
kata tak berasa mengalir dalam jejaring
tak jua mewakili perasaan
lebih-lebih ukuran atas rasa itu sendiri
dan ini baris kata-kata itu
(bandung, 270412)

Leave a comment

Angkringan

Ya angkringan atau dulu saya sering nyebutnya “hek” dengan hidangan khasnya sego (nasi) kucing, yaitu nasi dengan sedikit bandeng dan sambel. Harganya sangat murah, pernah merasakan dari harga Rp. 300,-  sampe sekitar Rp. 1.000,- kalo di seputaran solo :) . Kalo di bandung dan jakarta sekitar Rp. 2.000,- atau Rp. 2.500,- . Minuman yang khas adalah Jahe anget, Kopi  dan tentunya Teh panas :) dan ada juga sih jeruk ataupun variasinya semacam Teh Kampul (teh yang dikasi irisan jeruk). Biasanya ada gorengan juga dan karena angkringan ini biasanya pakai anglo jadi bisa menghangatkan gorengan dengan di bakar. Dengan budget minim kita bisa menikmati itu semua, untuk mahasiswa yang uang sakunya minim seperti saya itu menjadi hidangan makan malam yang cukup nikmat, ya dengan Rp. 5.000,- sudah dapat macem-macem waktu itu :) sekarang tidak tahu lagi karena yang jelas dengan adanya kenaikan BBM kita tidak bisa memprediksi lagi harga hidangan murah ini.

Dulu sering juga “ngutang” di angkringan dekat kost, sepertinya anak-anak griyapena mesti ingat kita ngutang ke siapa :D . Ya penjual di angkringan ini kadang sangat akrab dan kita jadi gak risih untuk ngutang jika belum ada kiriman dari ortu :) . Sebelum ngomongin tempat ngutang, sepertinya perlu di list lagi nih angkringan yang sering jadi langganan. Di dekat shobron dulu ada angkringan yang jadi langganan kalo pas pulang kuliah malam, tapi lupa namanya nih ntar kalo ada yang ingat bisa ditulis kembali. Di depan kampus UMS ada pak robet (nama panggilannya itu) di pertigaan, mulai hadir abis ashar sekitar jam 4 sore lah, kalo abis rapat di kampus I dan pengin teh panas bisa langsung nongkrong di situ. Dulu depan kampus II, depan F. Ekonomi ada Basuki, jadi kalo keluar dari kampus II misal habis kegiatan dan rapat bisa langsung mampir. Untuk dekat griyapena ada pak Kadir (nih nama aslinya juga gak dapat) karena dekat kost ya jelas dia jadi tukang nanggung makan anak-anak kost :) . Di jalan Gatak ada juga sih yang cukup rame dan biasanya nasinya masak sendiri , namanya pak Te (lagi-lagi gak tau nama sebenarnya) ini kalo nyari makan lewat tengah malam biasanya masih. Untuk yang dekat dengan griyapena, alternatif kalo kadir gak jualan ada “hik intel” gak tau sih kok ada nama ini :) kayaknya yang memberi nama seperti kamerad auliayanov dan akmal bisa menjelaskan ini :DContinue Reading »

4 Comments

Budaya dalam Film

Yups, karena mau coding belum dapat ide dan masih berkutat pada algoritma dan itungan, untuk sementara menikmati yang ringan-ringan aja. Berawal dari menonton film, ya walaupun diulang-ulang karena koleksinya cuma itu itu saja, ada yang menarik untuk kita bandingkan film-film kita dengan produk dari luar, bukan karena saya tidak suka film Indonesia lho :) . Cuma sekedar memperhatikan beberapa tema yang diangkat dalam film saja. Ya yang saya maksud adalah film “Remember me”, walaupun ceritanya berjalan sangat lambat tapi menarik untuk dinikmati, sebagai seorang penikmat buku, filsafat maupun mereka yang anti globalisme globalisasi :) . Film ini berfokus pada beberapa pelaku saja, cukup menarik karena ini menggambarkan tentang keluarga dan juga pengalaman seseorang yang menjadikan itu sebagai sebuah obsesi. Ok untuk membuat sebuah resensi film sepertinya tidak pas lah, yang jelas film ini cukup menyita perhatian ku.

Beberapa setting yang menarik adalah pelaku utama adalah dari keluarga “high class” tetapi tidak glamour alias mencari jalan sendiri. Menyukai filsafatnya Gandhi, dan filsafat klasik yunani lainnya, ini terlihat dari kutipan-kutipan dialog yang dia pakai dan juga cenderung menjadi fatalistik. Pemikiran pemikiran ini cukup kental dan begitu menjadikan si tokoh terobsesi (ini juga menjadi gambaran tokoh yang tidak ada di situ yaitu kakak si pemeran utama ini). Pemikiran filosofis dan kental dengan bacaan, buku ini terlihat dari scene-scene yang ditampilkan, film kita jarang yang seperti ini :) . Buku,kampus,perpus…

Leave a comment

roundRectangle

Beberapa hari ini hanya terpaku pada utak atik ofxUI di openframeworks, rencana sih pengin ngubah dikit biar bisa membuat roundRectangle di dalam UX tersebut. Copy class file udah dilakukan tapi tetap saja gagal, akhirnya memilih untuk membuat class turunan masih gagal juga, ya maklum di class utama masih tergantung dengan ofRectangle yang ada di openframeworks nya :( . Tapi gak kurang akal, akhirnya baca-baca ofxBlackBox milik patriciogonzales, menemukan ofxBlackWindow dan ada roundRectanglenya. Copas dulu dan coba diterapkan :) dan ternyata gagal pada ukuran, akhirnya nerusin baca-baca contoh-contoh source code yang ada dan menemukan solusinya ...

Dan setelah itu coba-coba baca lagi tentang membuat frame juga, dan ini berdasar pada contoh-contoh code yang sudah aku donlot beberapa bulan lalu :) ternyata jarang baca dan malas compile itu bermasalah … ok sementara itu dulu,

Leave a comment

Tentang Cita-cita

Jalan-jalan sore ke toko buku dengan banyak pikiran yang menyelinap dari prototipe project sampe judul thesis :) . Sore ini mengunjungi dua toko buku, sekedar melihat-lihat saja. Terantuk pada tumpukan buku komputer, filsafat, sosiologi dan juga politik. Akhirnya muncul pertanyaan-pertanyaan baru yaitu tentang cita-cita. Iya cita-cita kita dalam hidup maupun karir. Karena pertanyaan inilah yang sering ditanyakan oleh orang-orang disekitar kita sejak kecil. Sebelum kita mengenal sekolah dan lebih-lebih setelah kita memasuki dunia sekolahan.

Mungkin klise dan juga naif untuk ditanyakan kembali pada mereka yang sudah berumur, ya sebut aja begitu. Misal pertanyaan ini sekarang kita tanyakan pada mereka yang sedang mengambil kuliah S2 ataupun mereka yang sudah bekerja. Apakah cita-cita itu berhenti dalam taraf tertentu?? Mungkin waktu masih TK kita ada yang bercita-cita jadi dokter, polisi, tentara, insinyur, (dan tampaknya belum ada yang bercita-cita jadi anggota dewan). Pertanyaan dari guru atau orang-orang di sekitar kita ini kita jawab dengan semangat dan begitu yakin. Dan merekapun bangga dengan ungkapan cita-cita kita ini. Setelah memasuki bangku sekolah berikutnya kitapun masih ditanya dengan pertanyaan yang sama, “apa cita-citamu kelak?”. Dan lagi-lagi kita masih menjawab dengan bersemangat dan sangat yakin dengan cita-cita kita itu. Memasuki SMP, menjawab pertanyaan yang sama, kita mulai gamang dan menyebut saja “berguna bagi nusa bangsa dan agama”. Klise dan tak lagi bersemangat, masa depan menjadi tidak jelas dan kita hanya menikmati masa-masa itu seadanya tidak lebih.

Memasuki SMA, kita mulai tidak jelas lagi dengan masa depan walaupun sebagian sudah memilih jalur kejuruan. Menjadi sesuatu seperti yang kita ungkapkan waktu kecil seolah menjadi paksaan dan bukan dari diri kita sendiri. Hingga kita mendapati kita di penghujung tahun kelulusan dan kembali muncul pertanyaan-pertanyaan itu, dari BP/BK ataupun orangtua kita. “Mau jadi apa?”, “mau kuliah ambil jurusan apa?”, “mau kerja dimana?”, Dan kita mulai agak mantap memilih walaupun tidak yakin betul dengan pilihan-pilihan itu. Dan kuliah hingga semester akhirpun kita masih dalam kegamangan tentang cita-cita, walaupun kita sudah berusaha memenuhi yang kita inginkan waktu lulus SMA.

Demikianlah, kegamangan dan kebingungan akan cita-cita menjadikan kita tidak konsen dengan bidang yang kita tekuni. Karena di negeri ini tidak ada kepastian, seorang sarjana bisa bekerja sesuai bidangnya. Dan dunia kerja memaksa kita mengikuti pola-pola itu, atau kita memilih menjadi wiraswasta atau menjadi pengangguran. Paksaan ini sangat efektif di dunia serba materi ini, pilihan-pilihan ini kadang mengaburkan lagi cita-cita yang pernah kita ungkap sejak TK, SD, SMP, SMA, Kuliah (dan mungkin juga cita-citanya berbeda tiap tingkatan :) ). Mungkin itu dulu, sambil kita berbenah lagi dan merenungi segala cita-cita masa kecil kita untuk menghadapi pilihan-pilihan selanjutnya. Kerjakan thesis dan tentukan cita-cita lagi :)

2 Comments

AutoPilot

Beberapa hari ini istilah autopilot jadi marak. Bukan karena produksi pesawat terbang dinegeri ini tetapi tentang negeri ini yang seolah tidak lagi mempunyai pemimpin. Presiden ataupun wakil rakyat sudah tidak begitu mengetahui tentang negara ini. Kemuakan-kemuakan ini bukannya makin berkurang tetapi makin meluas.

Dulu ketika masih aktif di gerakan mahasiswa, aku pernah menulis tentang apatisme rakyat dan revolusi. Apatisme ini adalah sebuah kondisi dimana rakyat sudah tidak lagi percaya dengan negara dan akan menjadi acuh tak acuh dengan kondisi negeri. Negara sudah tidak lagi dipercaya untuk mengawal dan menyejahterakan rakyat, karena rakyat sudah sering ditelantarkan dan tidak pernah diperhatikan. Dan seolah negara dan aparatnya mempunyai sebuah kehidupan sendiri yang terpisah dengan rakyat. Dalam negara demokrasi, kondisi ini jelas akan menurunkan angka partisipasi dalam pemilihan umum sebagai legitimasi demokrasi itu sendiri, walaupun di lain pihak kondisi ini menguntungkan bagi para “petualang politik”. Pilihan untuk tidak memilih wakil-wakilnya di legislatif ataupun eksekutif adalah sebuah pilihan politik juga, sehingga tidak bisa dipaksakan menjadi kewajiban politik rakyat. Kondisi kemiskinan dan nir sejahtera telah menjadikan rakyat sebagai komoditas jual beli politik dan pendulangan suara pemilu dengan indikasi politik uang yang terbuka di setiap pemilu dan pemilukada di negeri ini. Tetapi kita tunggu saja, rakyat tetap bisa bersuara dan tidak selamanya akan dapat ditundukkan dengan sejumlah rupiah.

No State No Problem, iya ketika sering jalan-jalan di pelosok-pelosok desa kata-kata itu sering terngiang-ngiang, “Ada presiden atau nggak rakyat tetap bisa makan kok”, rakyat sebenarnya paham dengan hak-hak poltiknya dan juga hak-haknya sebagai warga, tetapi para pemimpinlah yang tidak pernah memenuhi hak-hak itu. Pembiaran kondisi ini adalah sebuah kesalahan fatal, karena rakyat sudah tidak mengakui lagi eksistensi para pemimpin itu. Dan dalam bahasa ekstrimnya, rakyat sudah masuk dalam ideologi “anarchy”, bahwa rakyat tetap bisa hidup tanpa negara, tanpa pemerintahan, tanpa pemilu.

Jalan Revolusi jika menggunakan indikator-indikator dari VI. Ulyanov maka saat ini sudah ada beberapa yang sesuai. Keterpurukan pasar global (krisis kapitalisme di USA dan Uni Eropa) bisa menjadi isu lokal yang akan menyerang negara yang masih mengagung-agungkan kapitalisme. Krisis kepemimpinan dan pemerintahan juga menjadi simbol bangkrutnya “sistem negara” dan rakyat yang harus mengambil alih. Moga Rakyat makin sadar dengan hak dan perannya dan tidak menyerahkan diri sebagai komoditas politik semata ….